Tuesday, September 25, 2018

BATU BOLONG SPOT at BALI

Hari ini Sep 23 2018, saya yang sudah berjanji kepada korep untuk menemaninya menemukan spot Batu Bolong. Korep @faisal.gadrie berkata bahwa ia sampai lima kali mencari spot tersebut tapi tidak berhasil. Paginya kami riset sebentar melalui google, dan referensi teman, dan kami memutuskan untuk memulai pencarian jam 14:00 WITA. Kami mulai keluar dari ‘GOA’ (Sebutan korep untuk kostnya, Lain waktu saya akan ambil foto kostnya yang memang tak terurus seperti Goa Peninggalan jepang, sangat kempros sekali). Tepat pukul 14:15 WITA kami keluar dari sarang goa korep. Dengan memakai matic kami menuju arah canggu dengan pedoman Google maps yang dengan sabar memberi kami petunjuk ke kanan kemudian ke kiri sepanjang perjalanan. Benar nyatanya, bahwa ada tiga spot yang bernama sama, yaitu Pantai Batu Bolong Canggu, dan Pura Batu bolong dan yang terakhir adalah spot yang kami tuju, Batu bolong spot. Google maps pun sempat ngadat, efek dramatisir keadaan yang panas serta agak kebingungan menemukan spot tersebut.
Akhirnya kami menemukan spot itu meskipun kami seperti anak kecil yang kegirangan melihat spot cantic. Bagi kalian yang berwisata ke Tanah lot Bali, jangan lupa mengunjungi Batu Bolong. Apalagi saat surut, kalian bisa menikmati indahnya sunset di spot ini. Banyak yang salah dan tidak berhasil menemukan spot ini, dikarenakan namanya sama dengan Pantai Batu Bolong Canggu, atau Pura Batu bolong. Sehingga pantas Korep tidak menemukan spot ini dikarenakan spot-spot yang lain bernama sama. Spot ini terletak pada satu areal wisata yang sama dengan Tanah lot, setelah mengunjungi Tanah lot berjalanlah ke arah kanan, kalian akan menemukan spot ini. Salam mlaku-mlaku.








Friday, August 10, 2018

tulisan membumi

beberapa kali saya berusaha untuk menulis yang sedemikian serius dan butuh pemikiran dan energi yang lebih. sebab banyak dari kawan-kawan saya sudah berlari jauh melampaui tingkat resistensi hidup yang mapan. sedang saya masih berkutat pada mimpi puisi, kerja mendongeng, dan segala aktifitas lain yang remeh temeh. Namun berapa kali juga saya hanya berhenti di tataran konsep. padahal gerak dan laju masyarakat sebegitu dahsyatnya bergerak mengikuti nadi dan passion masing-masing. saya jujur banyak berterima kasih kepada Sosial Media. Dari Sosial media-lah saya dapat mengukur dan membaca kawan-kawan saya melalui foto,status,profile yang selalu dinamis di setiap waktunya. ada perasaan haru,terkadang sedih, bahagia, bahkan sedikit culas dan iri atas keberhasilan yang dicapai beberapa kawan. Entah itu benar apa tidak keberhasilannya atau hanya sekedar topeng eksistensi, sedang nyatanya rumit menjalani kehidupan. namun saya jujur mengakui sedikit iri, dan dari hal negatif itulah saya merubahnya menjadi energi postif dengan membangun kerangka pola pikir pembanding atas reaksi kesuksesan mereka. dan This is me,,, orang yang selalu keras kepala akan nasib, orang yang akan berbusa-busa berbicara tentang puisi sampai pagi. Orang yang pekerjaanya mendongeng peristiwa kepada tetangga kost, kawan musik, hingga harus telaten membalas email kawan-kawan yang menanyakan ada event apa di Indonesia. Orang yang suka keluyuran dan nggembel terkonsep. orang yang tidak begitu suka teori dan wacana teori yang hanya menguap di pelataran kultus akademika. orang yang selalu mendongeng betapa dahsyatnya tradisi lisan dan non lisan pribumi kepada kawan di benua yang berbeda. yang harus terharu malam ini setelah melihat status kawan saya Dedi Andrianto Kurniawan, yang menyumpah serapahi wajah pertelevisian kita belakangan ini. Begitu banyak ruang dan kerja kreatif di Indonesia, namun sedikit yang mencoba berjudi di wilayah sosial yang membebaskan. cenderung jauh dari problem masyarakat banyak. Yang tumbuh subur adalah tarung wacana kepentingan, pengkotakan paham tertentu. Wajar bila kawan saya Mohammad Hadiansyah menganggap puisi dan kerja sastra lain terlalu melangit. terlalu jauh untuk ditafsir. walaupun sebenarnya kerja kreatif itu sesungguhnya jembatan antara yang fakta dengan yang fiksi. Masihkah ndakik-ndakik(baca muluk-muluk) terhadap jabatan,nilai materi dan pencapaian apapun itu hanya untuk sekedar menunjukkan eksistensi sebagai nilai dan tingkat elitis ditengah masyarakat Indonesia yang didera gradasi dan kebangkrutan pada banyak hal? dan saya masih berharap bahwa masyarakat indonesia dijauhkan dari penyakit Inferiority complex yang akut. Mari bersahaja, dengan masih tersenyum jika beras di dapur tinggal 1 gelas, dan esok juga masih menganggur. Sebab penjaga nusantara tak akan membiarkan anak cucunya kelaparan di negerinya sendiri bagi yang berusaha dengan sungguh. Pantang ngemis dan menganggap superior class adalah segalanya. #mencobamembumidengantulisan #letoywithlove 02.37 WITA

Beberapa Catatan

Saiful anwar. Malang
Menunda sehat saat tiba sakit. meski bibirmu tak berucap. Aq tahu engkau hendak berkata padaku.Cukuplah kau bermain2 dg hidupmu.Dan segeralah pulang anakq. menemani usia senjaku. (percakapan mata yg sama2 berkaca2 di sebuah bangsal. Aku menyayangimu ayah. sebuah kalimat yg tak pernah terucap hingga kini)
(16102017 l3toy at malang)

Menua Bersama
Ajang balapan kodrat. Semakin gila semua yang terjadi. Haruskah melacur pada pundi-pundi kesesatan. Jika kelak aku bermimpi. Aku hendak memilih menua bersama embun. Yang hadirnya dirindukan setiap pagi,dan menguap setelahnya. esok pun datang lagi bersama tampias hujan.
(10102017 23:11 WITA l3toy Share)

Eksistensi menurut saya adalah kadar pemahaman manusia secara sadar dan bertanggung jawab atas kehendaknya sendiri tanpa mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar. berangkat dari menunjukkan eksistensi tersebut ada semacam per maklum an terhadap kondisi. Disaat itulah terkadang memotivasi tingkat selfie sebagai pencitraan Image semakin meningkat penggunanya. Aplikasi software dan yang lainnya sebagai sarana pendukung selfie selalu ramai untuk diunduh. Saya juga termasuk orang yang beberapa kali melakukan aktivitas selfie dan menunjukkan eksistensi. Sebab itulah ada sedikit rasa riya' yang tak kentara diam-diam mulai hinggap tanpa saya sadar. So, finally,, beberapa waktu ini saya memang sangat menghindari mata kamera dari teman, kolega, orang tak dikenal maupun dari hape saya sendiri. Setidaknya meminimalisir sifat riya' atau bisa saya katakan proses eksistensi. Tapi tidak berlaku rupanya dan sulit saya hindari. Rasa eksistensi itu selalu saja muncul. Jika saat saya menemukan hal baru, makanan baru, sepatu baru, opini baru. Pasti secara sengaja saya akan share atau berniat berbagi. Namun akan dipahami dengan makna yang berbeda pula. Jadi menurut saya, memang lah cukup riskan untuk berbagi moment pada sosial media. Maka untuk meminimalisir tersebut perlulah diberi keterangan text untuk penguat dan peng kabur an esksistensi tersebut. Maaf, Ini hanya opini saya. Bagaimana dengan opini anda? saya menulis ini disela-sela menunggu kedatangan Pak jokowi. siapa tahu saya dapat sepeda karena bisa menjawab pertanyaanya. Di #GORSUWECA tempat penampungan sementara pengungsi Gunung Agung 25/09/2017

Aku kedinginan,ia pun menggigil
sama sendiri,pucat
peluk,bibirnya memanggil
saat ramadhan kian dekat
(berbincang dengan bulan:sama sendiri,diselingkuhi mimpi pagi)
Kudeta beach, 03:05 11052017
#asingdinegerisendiri