Sudah biarkan saja seperti itu. Kerena aku juga sudah kenyang dengan omelan tentang layout berita seperti itu. Apalagi sekarang banyak orang pergi ke gereja merayakan hari yang dianggap mereka suci kehadirannya tahun ini. Semua semestinya berjalan sesuai dengan jadwalnya. Jangan pernah keluar dari yang telah ditetapkan. Bahkan aku yang tak pernah merasakan libur, jarang datang ke gereja walaupun hanya sekedar berdoa. Paskah, Natal atau apalah. Yang biasanya oleh pemerintah diberi tanda merah. Aku tetap saja berkutat pada mesin ini. Tak pernah lelah. Juga tak pernah goyah. Karena ini urusan perut keluargaku di rumah.
Ruangan ini semakin menyiksaku dengan dingin AC yang bertengger angkuh tiga meter di atas kepala. Mengangguk-angguk seperti meniup terompet tahun baru yang akan tiba di penghujung tahun. Sayang ia tak bersuara seperti speaker mini di bawah kakiku. Ia sibuk saja berkoar-koar mengeluarkan suara atas apa yang aku perintah untuk memperdengarkan lagu dangdut melalui software yang ada di dalam komputer. Ya. Lagu yang sering orang bilang kampungan. Biarlah. Walaupun begitu aku menikmatinya seluruh. Menelannya dengan gendang telingaku. Tak ubahnya seorang tua yang terkesima mendengar alunan musik klasik dengan piringan hitam besar.
Lalu sepi benar-benar manyiksaku kali ini. Hanya itu yang aku rasakan di ruangan bertemperatur dua puluh empat derajat celcius ini. Kulitku mengering sudah. Lupa tadi aku membawa lotion pelembab kulit. Sebab waktu tak pernah kompromi dengan editor koran murahan sepertiku. Semua sudah ter-dateline rapi. Jam sekian harus sudah masuk meja redaktur. Atau alasan lain yang tak kalah pentingnya. Dan yang paling menyiksa adalah semua itu membuatku seakan-akan berlari dikejar seekor anjing Bulldog hitam besar. Dan aku terus saja berlari-lari untuk menyelamatkan bokongku dari gigitannya.
Dan tuntutan selalu mengiringi diriku bila terjadi kesalahan kecil saja. Namun ini tidak pernah main-main dengan semua kata yang berbaris membentuk makna itu. Kata-kata itu akan dibaca seluruh antero daerah. Salah sedikit membuat aku kesulitan. Kesalahan edit yang paling fatal adalah dilarang terbit lagi dan di-bredel dari peredaran. Sedang aku butuh makan. Sedang anakku butuh susu. Sedang istriku butuh baju. Sedang aku sendiri butuh ,….aku lupa aku butuh apa. Jika akan kudaftar seperti menu di restoran tentunya akan banyak juga. Berlembar-lembar pastinya. Karena aku tahu manusia tidak pernah ada puasnya atas keinginan. Maka itu togog pun memakan gunung.
Aku benar-benar sangat ingin menikmati hidup normal selayaknya orang lain. Berseragam. Masuk kantor jam delapan pagi. Tidak sepertiku yang berangkat ketika orang akan bercengkerama dengan keluarganya di sore hari. Kemudian aku membayangkan duduk di meja yang bernama atas diriku. Lengkap dengan embel-embel titel di depan dan belakang namaku. Ada pena dengan tinta berwarna emas nancap nyaman di saku kiri seragam. Lalu aku juga akan menghadap komputer. Seperti yang aku kerjakan sekarang. Jika tidak ada kerjaan aku akan mulai membuka koleksi permainan. Agar tak jenuh bekerja. Atau koleksi film bokep. Dan melihat sengaja dengan rasa was-was di hati. Takut atasan sidak ke kantor. Dan menemukan aku lagi tidak pada prosedur kerja orang-orang yang berseragam.
Sayangnya aku tidak pernah menjadikan profesi idaman itu menjadi kehidupanku sehari-hari. Atau aku yang tidak menginginkan keteraturan berseragam itu. Bagiku tidak pernah ada tantangan hidup bagi mereka. Mengerjakan hal yang berpola sama. Tak pernah beda dalam setahun. Atau jika ingin lari dari rutinitas membosankan mereka akan mengajukan proposal. Ya. Semacam proposal begitulah. Proposal untuk melancong ke luar negeri. Atau lebih dikenal dengan studi banding. Dan keluarga besar di rumah juga wajib ikut dengan gratis.
Dulu semasa menjadi mahasiswa aku juga tidak pernah hidup serba berkecukupan. Harus prihatin tiap harinya. Harus rela makan mie instant dua kali dan satu kali makan nasi di warung pinggir jalan. Biar cukup uang saku sebulan dari bapak di desa.
…..
Masih menari. Dan bergoyang juga. Semacam rumput laut yang ada di akuarium. Tepat di meja tamu dekat meja receptionis. Dan lampunya yang ungu membawa kesejukan tersendiri bagi segala tumbuhan laut yang bertengger di punggung karang yang di tata sedemikian rupa membentuk kenyamanan estetetis mata yang memandangnya. Jelas seperti caffein yang mengendurkan urat syaraf ketika raga berkata lelah pada otak. Ya. Ada juga ikan yang menjadi lambang sebuah perusahaan nasional atau juga semi nasional. Aku tidak tahu persisnya. Aku malas mengikuti beritanya. Ya sebuah kuda laut. Memagut-magut mesra pada karang yang menyala tertampias ungu lampu.
Lalu ingin saja menjadi muda lagi. Menjadi manusia yang tidak terbatas pada urusan perut. Menjadi manusia yang bebas. Menjadi manusia tak terikat waktu. Pergi sesukanya. Tak juga pernah pulang malam. Sekalian pagi. Langsung nyemplung sumur untuk mandi. Menggosok gigi. Dan menyisir rambut setelahnya. Dengan mata merah sehabis mabuk minuman murahan tadi malam masuk juga ke kelas. Dan dosen yang sama. Dosen yang tua. Dosen yang lurus mengajarkan teori. Dosen yang memutih rambutnya dan berusaha tampil muda dengan menyemir hitam rambutnya. Dengan semir murahan pula. Dosen yang berkompromi atas pilihan mahasiswa. Karena jika tidak akan didemo ratusan anak didiknya yang garang.
Dan aku. Aku yang masih saja hitam kulitnya. Aku yang masih saja berkacamata minus tebal. Aku yang masih saja berbibir besar hitam. Aku yang masih saja membuang puntung rokok sekenanya. Aku yang masih saja hapal dengan perkalian angka sampai seratus. Aku yang masih saja hobi memotret gadis yang melewati kampusku untuk menuju ke kampusnya di seberang. Dan itulah yang membuatku betah bersemedi di atas genteng panggung pertunjukkan yang sudah berlumut dimakan usia. Hanya untuk mendapatkan view yang pas untuk mengambil gambar tanpa diketahui empunya.
Buku yang kupegang selalu juga menjadi syarat untukku masuk mengikuti mata kuliah dengan harapan dosen cepat mengakhirinya. Karena mata ini selalu meronta-ronta minta untuk dipejamkan tiap kali dosen membuka lembar-lembar teorinya. Karena itu juga yang membuatku selalu menjadi orang yang tak pernah duduk di bangku depan kelas kecuali jika ujian yang mewajibkan aku harus duduk di bangku yang paling depan.
Semua menjadi suatu keasyikan tersendiri. Dan menggunung makna ketika harus hadir menjadi lamunan masa lalu. Dan saat ini aku telah beranak satu. Saat aku telah mengenal bagaimana kerasnya hidup. Saat aku telah menjadi bapak bagi anak semata wayangku. Saat aku tertawa tapi tak ada yang ikut tertawa di sampingku. Saat merasakan sepi di kerumunan orang merayakan natal tahun ini. Atau saat seperti tak pernah punya rasa untuk merasai sebuah kehidupan di luar. Ya. Diluar itu. Yang sekarang sudah ada pedagang terompet tahun baru. Atau pedagang makanan yang berebut lahan untuk menyambut tahun baru nanti.
Selantun nada dering monophonic dari handphone butut menampar gendang telingaku lembut menggetarkan seluruh aroma sepi di ruang bertemperatur dua puluh empat derajat ini. Dari Tantri. Istriku. Oh kiranya hanya SMS. Ada apa selarut ini ia SMS aku. Curigakah kepadaku? Tidak juga karena aku orang yang tak begitu suka keluar malam jika tak ada alasan yang tepat. Atau sekedar minum se-sloki arak di pinggiran jalan. Tidak. Aku sudah berhenti melakukan itu. Sejak predikatku menjadi seorang sarjana. Sejak predikatku menjadi seorang suami. Sejak predikatku menjadi seorang bapak bagi anakku. Tapi kenapa Tantri mengirimkan SMS kepadaku malam-malam begini.
“Arya sakit mas. Panasnya sudah terlalu tinggi. Apa perlu di bawa ke rumah sakit?”
Aku terkejut membacanya. Tadi siang Arya masih tertawa dengan teman seusianya. Aku spontan langsung membalas SMS Tantri dengan meneleponnya melalui fasilitas telepon kantor. Untuk memastikan. Untuk membuat hatiku tenang. Untuk secara langsung terlibat komunikasi yang tidak bisa diwakilkan dengan kata-kata yang ada di SMS. Untuk mendengar ekspresi Tantri di rumah tentang keadaan Arya anakku.
Hallo
Hallo
Dik, mulai kapan sakitnya?
Mulai dari tadi tak lama setelah mas mau berangkat ke kantor.
Sudah kau beri obat?
Belum mas. Sementara ini aku hanya mengompresnya.
Kenapa tidak di belikan obat.
Uangnya aku berikan pada pak Budi katanya malam ini ada arisan dan pengajian warga.
Kau bisa pinjam dulu ke mak Inah. Nanti sekembalinya aku dari kantor, aku bayar.
Sebentar mas. Arya kejang-kejang….
Maksudmu ?
Dan ia menutup pembicaraan sepihak. Menghempaskannya begitu saja. Persis seperti menghempaskan aku dalam tanda tanya yang besar atas keadaan Aryaku. Komputer masih nyala. Tanda kerjaanku untuk meng-edit berita esok masih belum selesai. Masih separuh jalan. Masih ada lima berita yang harus ku-edit malam ini. Sementara bayangan Tantri semakin menggurita di kepalaku. Seorang wanita yang sendiri di rumah ditinggalkan suaminya kerja di malam hari. Dan seorang anak yang sedang sakit. Entahlah. Kepalaku sudah tak bisa membayangkan jika keadaan ini menjadi semakin parah. Sebab terlintas rumah sakit adalah pilihan yang terbaik bagi anakku sekarang. Cepat kuambil jaket dan kunci sepedaku. Dan meninggalkan komputer nyala sendiri di kantor yang selalu sepi saat malam tiba. Kantor yang tidak mengenal hari libur. Karena aku tahu berita tak pernah libur.
Saat Jember diguyur hujan
At my room
So silence. Thank’s Tantri
Share bareng tentang apapun,,, Ilmu yang bermanfaat adalah salah satu amalan kita yang tidak akan terputus. Come share with us about anything,,,
Friday, January 29, 2010
Cerpen : ARYA
Aku membaca pikiranmu. Tak pernah berharap kau membaca pikiranku juga. Cukup hanya aku yang tersayat perihnya mimpi dan tak ingin membagikan kepadamu. Karena semua ini pasti sulit untuk dijalani bersama. Seberapa kuatnya cinta kita bertengger dalam pusaran waktu, tetap saja kalah dengan rasa kebosanan yang tiba-tiba merayap dalam hitungan tahun. Kau dan aku tak benar-benar sama. Tak benar-benar kuat. Sedangkan kita berdua terikat. Tak pernah menginginkan ikatan itu benar-benar terlepas. Sementara kegelimangan dunia terus menarik-narik untuk membuka simpul ikatan kita yang semestinya tak rapuh dengan waktu.
Sebenarnya kita bisa saja menyerah dan melepas ikatan tersebut. Tetapi kuasa hati mencegahnya. Menolaknya. Demi melihat permata yang kita buat dengan sayang pada matahati. Permata yang merengek jika malam kehabisan sumbu gelapnya. Aku dan kamu saling tergopoh memberi terang cahaya agar ia berhenti merengek. Walau aku hanya mengusap rambutnya. Cukup menenangkan hatimu dan ia.
Segera pamit dan undur diri dari pikiran yang menghinaku habis-habisan pada malam terakhir menjadi seorang bijak. Dan esok kembali pada kejadian yang selalu berulang. Merapikan meja kantor kepala sekolahku. Membersihkan halaman sekolah. Membuka pagar gerbang. Lalu santai sejenak dengan menghisap rokok dan segelas teh hangat. Aku juga membuat kopi dan teh buat para guru yang lain. Sedangkan kamu mencuci pakaianku, memasak, membersihkan rumah, dan memelihara permata kita. Dan permata kita, selalu juga sama. Merengek jika kehausan, merengek jika ngompol, merengek jika lapar.
Aku akui beban kita sama-sama berat untuk memberi yang terbaik untuk permata kita. Namun itu semua kita melakukannya dengan ikhlas. Tak pernah terbayang sedikitpun melihat permata kita jatuh dan menangis tersedu-sedu tanpa ada kita disampingnya. Namun kita masih lemah merawatnya. Sering terlambat memenuhi kebutuhannya. Padahal kita sudah bersusah sungguh memenuhinya. Agar ia tak merengek. Agar ia tak menangis. Agar ia tak kurang gizi.
Sayang tak pernah permata kita mengetahui dan menyadari. Ia tetap saja merengek dengan lengkingnya. Tak perduli aku sudah seharian lelah di kantor. Tak perduli kamu seharian menjaganya. Permata hati kita memang sedikit nakal. Agak egois dengan kemauannya. Tapi kita teramat sayang padanya. Teramat mencintainya. Dan kecintaan itu kini berubah menjadi suatu perasaan kasihan jika tak memenuhi permintaannya. Tapi hidungnya mirip denganku. Lihatlah mancungnya. Aku merasa sempurna diriku disana. Ya. Di hidung mancungnya.
”Mas, susu Arya habis.”
”Apa...? Empat hari yang lalu aku membelinya. Sudah habis?”
”Tiada tersisa, mas.”
”Arya seperti gentong saja. Susu hanya mampir dan kemudian memendar dalam tubuhnya yang putih.”
”Mas, anak kita bukan gentong. Anak kita kesatria. Wajar jika ia lain dengan anak seusianya.”
”Tapi bapaknya kaum Sudra. Mana mungkin memenuhi kebutuhan kaum kesatria.”
”Susuku sendiri hanya mampir tragis di penghujung dahaganya. Dan ketika Arya mulai merengek memintanya lagi, kejot-kejot payudaraku semakin terasa. Perih mas. Dan tak mengeluarkan susu lagi.”
”Oh…anak lelakiku. Kau belum juga besar. Kau belum juga kekar. Tapi layaknya kesatria. Aku tak pernah bisa untuk tidak menurutimu.”
”Seharusnya kita memang memberikan yang terbaik buat Arya.”
”Aku berusaha semampuku. Ini semua buat Arya.”
Arya kembali merengek tanpa dosa. Istriku mulai panik. Ia mengambil pemompa payudara. Ia banyak berharap susunya keluar lagi. Dan tidak lama kemudian memang benar. Susunya keluar dibarengi senyum meringis menahan kesakitan yang amat dalam. Dan Arya melumatnya dengan rakus. Aku keluar. Tak tega melihat istriku seperti itu.
Segalanya berubah hari ini tentunya. Tak jadi lebih baik. Malah semakin buruk. Dari tadi pagi perutku belum tersentuh nasi secuilpun. Begitu juga istriku. Uang makan kuhamburkan pada toko depan rumahku membeli susu yang semakin membuat Arya keranjingan memecutku. Memecutku untuk lebih bekerja keras membelikan susunya kembali.
`````
Pagi itu Arya sangat manis. Istriku mendadaninya seperti kesatria. Aku sangat ingin menggendongnya. Sayang istriku telah sigap membungkusnya dengan selendang dan menggendongnya. Kemudian berjalan ke arahku.
”Ayo mas, takut panas kalau terlalu siang.”
”Iya. Ayo.”
”Mas sudah menelepon bahwa hari ini kita akan ke rumah pak Rudy khan?”
”Sudah.”
”Aku hanya mengingatkan. Aku tahu kamu sering lupa dalam segala hal.”
”Jika buat Arya mana mungkin aku lupa.”
`````
Sepedaku mulai merambat melaju pelan. Di belakangnya istriku terdiam menikmati angin. Udara pagi hari ini sedikit tercemar dengan beberapa pick-up yang hilir mudik mengeluarkan asap pekat. Pick-up itu mengantarkan para petani menuju ke pasar. Menjual hasil jerih payahnya berbulan-bulan ke tengkulak. Aneka sayur-mayur yang cukup subur tumbuh di desa Kareng Lor membuat senyum petani benar-benar istimewa saat musim panen kali ini. Panen yang menguntungkan. Wajah para petani itu begitu kekal. Terpampang pada gurat wajahnya yang tak menua karena usia.
Aspal yang banyak berlubang membuka perjalanan pagi ini. Aku harus mengayuh sepedaku menuju ke desa Wonoasih. Dari sana lalu aku akan ke arah kiri menuju perumahan Prasaja Mulya di pinggir kota Probolinggo. Pak Rudy tinggal disana. Pak Rudy adalah kepala sekolah tempat aku bekerja. Aku hanya sebagai pembantu sekolah di tempat Pak Rudy. Ia sangat baik padaku dan karyawan-karyawan lain. Tak pernah membeda-bedakan.
Aku sangat tahu pak Rudy. Ia lulusan universitas terkenal di Jakarta. Bahkan gelar doktor baru ia terima dua bulan yang lalu. Wajahnya menarik walau telah berusia kepala empat. Istrinya seorang pegawai bank swasta. Masih terlihat menipu pada usianya yang juga kalau nggak salah 37 pada tahun ini. Banyak orang tidak percaya jika istri pak Rudy telah berumur dan menyangka usianya masih belia. Hidup mereka sangat berkecukupan tentunya. Sayang masih belum punya keturunan.
`````
”Oh pak Kardiyo. Bersama istri juga, tho.”
”Iya pak.”
Sesaat setelah sampai di depan rumah pak Rudy itu, ia mempersilahkan aku dan istriku duduk di serambi depan rumahnya yang asri. Ada kolam koi nyempil di pojok rumahnya. Sehingga langsung terpandang mata saat duduk di depan serambinya. Rumah itu kelihatan nyaman. Tak lama, istri pak Rudy keluar membawa minuman dan makanan ringan.
”Nggak usah repot-repot, Bu.” sapa istriku berbasa-basi mencairkan suasana.
”Ah nggak kok. Kebetulan ada, Bu Kardiyo.”
Lalu pak Rudy menatapku sebentar kemudian memulai pembicaraan.
”Bagaimana pak Kardiyo? Sudah dibicarakan dengan istri tentang niat kami?’
”Sudah pak.”
”Lalu?”
Aku menatap mata Arya yang terus berada di gendongan istriku. Ia tampak gagah bersembunyi di ketiak istriku. Kulitnya yang kuning tak menampakkan seperti anak dari keluarga yang hanya bermodal cukup. Cukup buat makan hari ini. Cukup untuk mbayar listrik kontrakan dan cukup untuk membeli keperluan yang pokok saja. Aku iri dengannya. Kenapa tidak aku saja yang tenggelam dalam ketiak istriku dan ia yang berbicara dengan pak Rudy.
”Pak Kardiyo…”
”Maaf pak, saya jadi melamun.”
’Tidak apa-apa. Bagaimana?”
Aku tiba-tiba tersentak dan entah keberanian dari mana sekonyong-konyong menuntunku berbicara pada pak Rudy.
”Maaf pak Rudy. Saya sudah merundingkan niat bapak dengan istri saya. Terus terang saya sangat berat untuk mengatakan ini kepada bapak.”
”Jangan sungkan pak Kardiyo.”
”Iya pak. Karena kebaikan bapak selama ini saya merasa sulit untuk membicarakan niat bapak kepada istri saya.”
”Ya, saya mengerti sepenuhnya.”
”Saya dengan tidak mengurangi rasa hormat menolak niat bapak untuk mengadopsi anak kami.”
Istriku terkejut. Jawabanku tak seperti yang ia duga. Sungguh sangat melenceng dengan perkataanku tadi malam. Bahkan istriku juga sudah mengijinkan Arya di adopsi pak Rudy. Tapi aku tahu. Aku sangat tahu istriku. Arya tidak menginginkan itu terjadi. Lihat hidung mancungnya. Sempurna milikku. Aku takkan tega ia jauh dariku. Aku akan memberinya susu terbaik dengan keringatku. Aku menjaganya dengan sepenuh jiwaku. Tidak istriku. Aku tidak rela jika Arya tidak memberi senyum padaku saat pagi hari ketika aku berangkat kerja. Biarlah istriku. Aku akan menjadi kerbau yang lebih keras lagi mencari pundi-pundi uang tambahan untuk membeli susu Arya.
Sebab hidung Arya mancung. Sempurna diriku di hidungnya. Tak seorangpun dapat memisahkannya dariku. Maafkan aku istriku. Tapi aku berjanji. Payudaramu tak akan kubiarkan perih saat dilumat Arya.
Tetep di kamarku
sejuta ide yang hanya menunggu waktu,
jam 4.30 kuselesaikan coretan ini.
Pagi yang indah.
Dan aku sendiri menahan kerinduan yang menyiksa.
Sebenarnya kita bisa saja menyerah dan melepas ikatan tersebut. Tetapi kuasa hati mencegahnya. Menolaknya. Demi melihat permata yang kita buat dengan sayang pada matahati. Permata yang merengek jika malam kehabisan sumbu gelapnya. Aku dan kamu saling tergopoh memberi terang cahaya agar ia berhenti merengek. Walau aku hanya mengusap rambutnya. Cukup menenangkan hatimu dan ia.
Segera pamit dan undur diri dari pikiran yang menghinaku habis-habisan pada malam terakhir menjadi seorang bijak. Dan esok kembali pada kejadian yang selalu berulang. Merapikan meja kantor kepala sekolahku. Membersihkan halaman sekolah. Membuka pagar gerbang. Lalu santai sejenak dengan menghisap rokok dan segelas teh hangat. Aku juga membuat kopi dan teh buat para guru yang lain. Sedangkan kamu mencuci pakaianku, memasak, membersihkan rumah, dan memelihara permata kita. Dan permata kita, selalu juga sama. Merengek jika kehausan, merengek jika ngompol, merengek jika lapar.
Aku akui beban kita sama-sama berat untuk memberi yang terbaik untuk permata kita. Namun itu semua kita melakukannya dengan ikhlas. Tak pernah terbayang sedikitpun melihat permata kita jatuh dan menangis tersedu-sedu tanpa ada kita disampingnya. Namun kita masih lemah merawatnya. Sering terlambat memenuhi kebutuhannya. Padahal kita sudah bersusah sungguh memenuhinya. Agar ia tak merengek. Agar ia tak menangis. Agar ia tak kurang gizi.
Sayang tak pernah permata kita mengetahui dan menyadari. Ia tetap saja merengek dengan lengkingnya. Tak perduli aku sudah seharian lelah di kantor. Tak perduli kamu seharian menjaganya. Permata hati kita memang sedikit nakal. Agak egois dengan kemauannya. Tapi kita teramat sayang padanya. Teramat mencintainya. Dan kecintaan itu kini berubah menjadi suatu perasaan kasihan jika tak memenuhi permintaannya. Tapi hidungnya mirip denganku. Lihatlah mancungnya. Aku merasa sempurna diriku disana. Ya. Di hidung mancungnya.
”Mas, susu Arya habis.”
”Apa...? Empat hari yang lalu aku membelinya. Sudah habis?”
”Tiada tersisa, mas.”
”Arya seperti gentong saja. Susu hanya mampir dan kemudian memendar dalam tubuhnya yang putih.”
”Mas, anak kita bukan gentong. Anak kita kesatria. Wajar jika ia lain dengan anak seusianya.”
”Tapi bapaknya kaum Sudra. Mana mungkin memenuhi kebutuhan kaum kesatria.”
”Susuku sendiri hanya mampir tragis di penghujung dahaganya. Dan ketika Arya mulai merengek memintanya lagi, kejot-kejot payudaraku semakin terasa. Perih mas. Dan tak mengeluarkan susu lagi.”
”Oh…anak lelakiku. Kau belum juga besar. Kau belum juga kekar. Tapi layaknya kesatria. Aku tak pernah bisa untuk tidak menurutimu.”
”Seharusnya kita memang memberikan yang terbaik buat Arya.”
”Aku berusaha semampuku. Ini semua buat Arya.”
Arya kembali merengek tanpa dosa. Istriku mulai panik. Ia mengambil pemompa payudara. Ia banyak berharap susunya keluar lagi. Dan tidak lama kemudian memang benar. Susunya keluar dibarengi senyum meringis menahan kesakitan yang amat dalam. Dan Arya melumatnya dengan rakus. Aku keluar. Tak tega melihat istriku seperti itu.
Segalanya berubah hari ini tentunya. Tak jadi lebih baik. Malah semakin buruk. Dari tadi pagi perutku belum tersentuh nasi secuilpun. Begitu juga istriku. Uang makan kuhamburkan pada toko depan rumahku membeli susu yang semakin membuat Arya keranjingan memecutku. Memecutku untuk lebih bekerja keras membelikan susunya kembali.
`````
Pagi itu Arya sangat manis. Istriku mendadaninya seperti kesatria. Aku sangat ingin menggendongnya. Sayang istriku telah sigap membungkusnya dengan selendang dan menggendongnya. Kemudian berjalan ke arahku.
”Ayo mas, takut panas kalau terlalu siang.”
”Iya. Ayo.”
”Mas sudah menelepon bahwa hari ini kita akan ke rumah pak Rudy khan?”
”Sudah.”
”Aku hanya mengingatkan. Aku tahu kamu sering lupa dalam segala hal.”
”Jika buat Arya mana mungkin aku lupa.”
`````
Sepedaku mulai merambat melaju pelan. Di belakangnya istriku terdiam menikmati angin. Udara pagi hari ini sedikit tercemar dengan beberapa pick-up yang hilir mudik mengeluarkan asap pekat. Pick-up itu mengantarkan para petani menuju ke pasar. Menjual hasil jerih payahnya berbulan-bulan ke tengkulak. Aneka sayur-mayur yang cukup subur tumbuh di desa Kareng Lor membuat senyum petani benar-benar istimewa saat musim panen kali ini. Panen yang menguntungkan. Wajah para petani itu begitu kekal. Terpampang pada gurat wajahnya yang tak menua karena usia.
Aspal yang banyak berlubang membuka perjalanan pagi ini. Aku harus mengayuh sepedaku menuju ke desa Wonoasih. Dari sana lalu aku akan ke arah kiri menuju perumahan Prasaja Mulya di pinggir kota Probolinggo. Pak Rudy tinggal disana. Pak Rudy adalah kepala sekolah tempat aku bekerja. Aku hanya sebagai pembantu sekolah di tempat Pak Rudy. Ia sangat baik padaku dan karyawan-karyawan lain. Tak pernah membeda-bedakan.
Aku sangat tahu pak Rudy. Ia lulusan universitas terkenal di Jakarta. Bahkan gelar doktor baru ia terima dua bulan yang lalu. Wajahnya menarik walau telah berusia kepala empat. Istrinya seorang pegawai bank swasta. Masih terlihat menipu pada usianya yang juga kalau nggak salah 37 pada tahun ini. Banyak orang tidak percaya jika istri pak Rudy telah berumur dan menyangka usianya masih belia. Hidup mereka sangat berkecukupan tentunya. Sayang masih belum punya keturunan.
`````
”Oh pak Kardiyo. Bersama istri juga, tho.”
”Iya pak.”
Sesaat setelah sampai di depan rumah pak Rudy itu, ia mempersilahkan aku dan istriku duduk di serambi depan rumahnya yang asri. Ada kolam koi nyempil di pojok rumahnya. Sehingga langsung terpandang mata saat duduk di depan serambinya. Rumah itu kelihatan nyaman. Tak lama, istri pak Rudy keluar membawa minuman dan makanan ringan.
”Nggak usah repot-repot, Bu.” sapa istriku berbasa-basi mencairkan suasana.
”Ah nggak kok. Kebetulan ada, Bu Kardiyo.”
Lalu pak Rudy menatapku sebentar kemudian memulai pembicaraan.
”Bagaimana pak Kardiyo? Sudah dibicarakan dengan istri tentang niat kami?’
”Sudah pak.”
”Lalu?”
Aku menatap mata Arya yang terus berada di gendongan istriku. Ia tampak gagah bersembunyi di ketiak istriku. Kulitnya yang kuning tak menampakkan seperti anak dari keluarga yang hanya bermodal cukup. Cukup buat makan hari ini. Cukup untuk mbayar listrik kontrakan dan cukup untuk membeli keperluan yang pokok saja. Aku iri dengannya. Kenapa tidak aku saja yang tenggelam dalam ketiak istriku dan ia yang berbicara dengan pak Rudy.
”Pak Kardiyo…”
”Maaf pak, saya jadi melamun.”
’Tidak apa-apa. Bagaimana?”
Aku tiba-tiba tersentak dan entah keberanian dari mana sekonyong-konyong menuntunku berbicara pada pak Rudy.
”Maaf pak Rudy. Saya sudah merundingkan niat bapak dengan istri saya. Terus terang saya sangat berat untuk mengatakan ini kepada bapak.”
”Jangan sungkan pak Kardiyo.”
”Iya pak. Karena kebaikan bapak selama ini saya merasa sulit untuk membicarakan niat bapak kepada istri saya.”
”Ya, saya mengerti sepenuhnya.”
”Saya dengan tidak mengurangi rasa hormat menolak niat bapak untuk mengadopsi anak kami.”
Istriku terkejut. Jawabanku tak seperti yang ia duga. Sungguh sangat melenceng dengan perkataanku tadi malam. Bahkan istriku juga sudah mengijinkan Arya di adopsi pak Rudy. Tapi aku tahu. Aku sangat tahu istriku. Arya tidak menginginkan itu terjadi. Lihat hidung mancungnya. Sempurna milikku. Aku takkan tega ia jauh dariku. Aku akan memberinya susu terbaik dengan keringatku. Aku menjaganya dengan sepenuh jiwaku. Tidak istriku. Aku tidak rela jika Arya tidak memberi senyum padaku saat pagi hari ketika aku berangkat kerja. Biarlah istriku. Aku akan menjadi kerbau yang lebih keras lagi mencari pundi-pundi uang tambahan untuk membeli susu Arya.
Sebab hidung Arya mancung. Sempurna diriku di hidungnya. Tak seorangpun dapat memisahkannya dariku. Maafkan aku istriku. Tapi aku berjanji. Payudaramu tak akan kubiarkan perih saat dilumat Arya.
Tetep di kamarku
sejuta ide yang hanya menunggu waktu,
jam 4.30 kuselesaikan coretan ini.
Pagi yang indah.
Dan aku sendiri menahan kerinduan yang menyiksa.
Friday, September 18, 2009
Bursa Transfer Ramadhan Episode:Curhat Jalanan
Semacam catatan perjalanan.
Hari lebaran atau Idul fitri tinggal menunggu beberapa hari ke depan. Berkah-berkah yang dialirkan pada bulan ini sangat banyak dan berusaha kita raih juga dengan sebanyak-banyaknya pula. Beberapa peristiwa maupun kejadian siap membuat cerita pada kehidupan seorang muslim pada bulan yang terkenal dengan maghfiroh. Ada yang pada bulan ini lagi kesusahan seperti beberapa saudara kita yang tertimpa bencana gempa. Ada pula yang pada bulan ini juga bersiap-siap untuk dirumahkan dari tempatnya bekerja tanpa pesangon dan juga tanpa sedikit uang THR.
Sebagian pula sudah bisa tersenyum lega telah mendapat uang THR dan bersiap-siap untuk melakuklan tradisi mudik. Baik menggunakan kendaraan pribadi maupun umum, sepeda motor, mobil, bahkan kemarin juga ada yang nekat mudik menggunakan bajaj (TVone/13-09-2009). Bingkisan lebaran bagi yang menjadi PNS juga sudah dibagikan. Kardus berwarna coklat bertuliskan “Selamat merayakan hari raya Idul Fitri” itu telah menghantarkan senyum indah pada keluarga mereka di rumah yang telah menunggu bingkisan tersebut. Sebagai bentuk hubungan yang terjalin semasa mereka bekerja di instansi tertentu.
Semua kegetiran hidup dan senyum lega itu saling mengisi di bulan Ramadhan kali ini. Seperti rajutan kain ulos yang terajut dari berbagai warna benang seperti itulah kisah yang mengisi ruang-ruang Ramadhan kali ini. Begitu perih mengingat mereka yang tengah tertimpa cobaan dari Allah SWT pada ramadhan kali ini. Namun terkadang kita juga sedikit bersyukur melihat senyum bahagia dari mereka yang bisa merayakan lebaran. Ada rasa yang menyayat-nyayat perasaan, disisi lain ada perasaan bahagia pada satu waktu yang sama. Ramadhan yang kompleks. Ramadhan yang sempurna.
Sedikit bercerita
Hari sabtu sore.
Masih juga di bulan ramadhan. Di sebuah jalan di kota probolinggo. Seorang laki-laki paruh baya meregang nyawa pada aspal-aspal yang diam membatu. Menyerahkan segala kepasrahan pada ban besar milik sebuah truk. Jasad kakinya hampir terlumat habis oleh kasar kerikil yang menyeretnya beberapa meter oleh hentakan gas truk tersebut. Dengan sedikit lirih ia sempat juga memanggil tuhannya. Kemudian menutup matanya dengan mulut yang sedikit terbuka. Masih juga dibulan ramadhan. Ia tak sempat berkata lagi karena nyawa telah tiada.
Sebulan ini angin menderu lebih kencang dari biasanya, melarung
Kesekian kali nyawa di jalan-jalan panas yang beraspal.
mereka sepersekian detik dengan sangat khidmad menyebut nama-Nya,
sungguhindah
menjadi saksi sejarah atas peregangan nyawa di jalan-jalan panas yang beraspal itu
lalu sepersekian detik juga ada hembusan terakhir
yang mengagumkan.
sepertinya ada sedikit pinta pada hembusan terakhir itu
sangat lirih.
Ya Allah Selamatkan aku di Akhiratmu
Ahhh, terlalu sakit memujaMu di saat ajal mulai mencekik diam-diam nyawa
selesai juga akhirnya aku bermunajat pada-MU,
pada jalan-jalan panas yang beraspal ini.
Sabtu malam.
Bergegas memburu pahala dengan membawa sajadah dan kopiah. Menuju ke masjid jami’ kota Probolinggo. Beberapa rombongan bemukena putih santun menakzimi setiap muslim yang mereka kenal. Ada sedikit kepuasaan di mata mereka setelah seharian berperang melawan hawa nafsu masing-masing. Bergegas juga sang imam memulai Isya yang khusyu’. Setelah beberapa lama membaca wirid bersama maka komando untuk melakukan shalat tarawih bersama dikumandangkan. Masjid yang sudah dirernovasi itu semakin terlihat lapang dan nyaman disana. Apalagi menyentuh karpet-karpet lembut dan beraroma wangi, hati ini semakin tergetar untuk lebih menyeru pengampunan kepada-Nya.
Beberapa menit dihasbiskan untuk tarawih di masjid itu sama sekali tak terasa letihnya. Kenyamanan yang sempurna untuk beribadah. Namun sayang tak sampai 5 baris shaf yang terisi di masjid yang begitu besarnya. Tapi lihat saja nanti ketika shalat Idul Fitri dilaksanakan. Di luar pelataran masjid pun akan penuh dengan orang-orang yang ingin melaksanakan shalat. Walaupun harus mengalasi dulu dengan beberapa lembar Koran. Indahnya jika pada saat tarawih kali ini seperti saat shalat Idul Fitri dilaksanakan.
Tarawih dilanjutkan pula ke tadarus. Membunyikan firman-firman Allah dengan irama merdu, volume suara microphone juga diatur sedemikian rupa agar tak mengganggu syaraf pendengaran. Jadi semakin berniat menyimak bacaaan firman-firman tersebut. Tidak seperti yang terjadi di beberapa masjid yang membunyikan keras-keras dan sedikit semaunya. Kadang hati juga merasa sedikit dongkol. Mau disimak bacaan Qur’an itu tapi sangat menganggu di telinga akibat volume speakernya yang terlalu kencang. Tidak disimak malah semakin parah karena bacaaan yang dibaca itu Al Quran yang nota bene harus disimak ketika diperdengarkan. Jadi dilema pada masing-masing muslim tentunya.
Sedikit bergeser ke tempat lapang di depan masjid jami’ ini. Hhhmmmmhhh. Hanya bisa mengelus dada saja. Muda-mudi yang masih berusia belasan bahkan ada beberapa yang belum genap sepuluh, bergerombol. Mencari kesenangan. Mencari sesuatu yang baru. Berdekat-dekatan walau nyata bukan muhrim. Di pojokan yang agak temaram. Entah setan mana yang membius mereka. Ini kah wajah ramadhan di kota tercinta dan kebanggan kita semua. Dimanakah para orang tua anak-anak bau kencur tersebut. Ataukah alasan dari anak mereka memang membuat para orang tua lengah untuk mengawasi. Subhanallah. Monggo kita saling menjaga rumah dan keluarga kita masing-masing. Setidaknya pada bulan ini. Kita benar-benar mengawasi anak-anak kita.
Sedikit berbagi
Bulan ini sangat menjanjikan ampunan. Maka hari-hari Ramadhan semakin dekat meninggalkan kita. Semakin berkurang juga kesempatan kita untuk meminta ampunan. Maka bergegas. Ayo bergegas. Memperbanyak amalan-amalan sekecil apapun di bulan ini. Seperti juga Transfer uang melalui ATM. Pada bulan ini juga telah dibuka keran-keran transfer pahala ke rekening hati kitas. Tinggal kita mau apa tidak melaksanakan. Sekecil apapun yang dilakukan pada bulan ini adalah ibadah. Bahkan tidur pada bulan ini pun adalah ibadah.
Banyak dari para pekerja sering mengeluhkan pekerjaannya. Apalagi pekerjaan yang berbau di lapangan. Ketika matahari terik menyambut mereka. Banyak yang tak tahan. Membatalkan puasanya. Padahal Allah sudah bersiap mentransfer pahala di pundit-pundi amal mereka. Sungguh sangat disayangkan bukan. Sedang saudara muslim kita yang tertimpa musibah lebih berat tekanannya daripada kita. Lantas apa yang menjadi pemaafan atas batalnya puasa kita? Tidak ada. Karena Allah tidak pernah salah mentransfer pahala kepada kita. Lihat saldo pahala kita juga akan dilipatgandakan pad bualan ini. Maka sangat disayangkan kita melewatinya hanya karena masalah pekerjaan.
Transfer pahala Allah itu pasti. Maka jangan ada sedikit keraguan apapun atas janji Allah tersebut. Cek saldo di pundi-pundi amal kita dengan shalat malam. Sedikit introspeksi ke diri masing-masing. Maka percayalah transfer pahala itu semakin jelas kita rasakan alirannya.
buat kawan-kawan sejihad
Hari lebaran atau Idul fitri tinggal menunggu beberapa hari ke depan. Berkah-berkah yang dialirkan pada bulan ini sangat banyak dan berusaha kita raih juga dengan sebanyak-banyaknya pula. Beberapa peristiwa maupun kejadian siap membuat cerita pada kehidupan seorang muslim pada bulan yang terkenal dengan maghfiroh. Ada yang pada bulan ini lagi kesusahan seperti beberapa saudara kita yang tertimpa bencana gempa. Ada pula yang pada bulan ini juga bersiap-siap untuk dirumahkan dari tempatnya bekerja tanpa pesangon dan juga tanpa sedikit uang THR.
Sebagian pula sudah bisa tersenyum lega telah mendapat uang THR dan bersiap-siap untuk melakuklan tradisi mudik. Baik menggunakan kendaraan pribadi maupun umum, sepeda motor, mobil, bahkan kemarin juga ada yang nekat mudik menggunakan bajaj (TVone/13-09-2009). Bingkisan lebaran bagi yang menjadi PNS juga sudah dibagikan. Kardus berwarna coklat bertuliskan “Selamat merayakan hari raya Idul Fitri” itu telah menghantarkan senyum indah pada keluarga mereka di rumah yang telah menunggu bingkisan tersebut. Sebagai bentuk hubungan yang terjalin semasa mereka bekerja di instansi tertentu.
Semua kegetiran hidup dan senyum lega itu saling mengisi di bulan Ramadhan kali ini. Seperti rajutan kain ulos yang terajut dari berbagai warna benang seperti itulah kisah yang mengisi ruang-ruang Ramadhan kali ini. Begitu perih mengingat mereka yang tengah tertimpa cobaan dari Allah SWT pada ramadhan kali ini. Namun terkadang kita juga sedikit bersyukur melihat senyum bahagia dari mereka yang bisa merayakan lebaran. Ada rasa yang menyayat-nyayat perasaan, disisi lain ada perasaan bahagia pada satu waktu yang sama. Ramadhan yang kompleks. Ramadhan yang sempurna.
Sedikit bercerita
Hari sabtu sore.
Masih juga di bulan ramadhan. Di sebuah jalan di kota probolinggo. Seorang laki-laki paruh baya meregang nyawa pada aspal-aspal yang diam membatu. Menyerahkan segala kepasrahan pada ban besar milik sebuah truk. Jasad kakinya hampir terlumat habis oleh kasar kerikil yang menyeretnya beberapa meter oleh hentakan gas truk tersebut. Dengan sedikit lirih ia sempat juga memanggil tuhannya. Kemudian menutup matanya dengan mulut yang sedikit terbuka. Masih juga dibulan ramadhan. Ia tak sempat berkata lagi karena nyawa telah tiada.
Sebulan ini angin menderu lebih kencang dari biasanya, melarung
Kesekian kali nyawa di jalan-jalan panas yang beraspal.
mereka sepersekian detik dengan sangat khidmad menyebut nama-Nya,
sungguhindah
menjadi saksi sejarah atas peregangan nyawa di jalan-jalan panas yang beraspal itu
lalu sepersekian detik juga ada hembusan terakhir
yang mengagumkan.
sepertinya ada sedikit pinta pada hembusan terakhir itu
sangat lirih.
Ya Allah Selamatkan aku di Akhiratmu
Ahhh, terlalu sakit memujaMu di saat ajal mulai mencekik diam-diam nyawa
selesai juga akhirnya aku bermunajat pada-MU,
pada jalan-jalan panas yang beraspal ini.
Sabtu malam.
Bergegas memburu pahala dengan membawa sajadah dan kopiah. Menuju ke masjid jami’ kota Probolinggo. Beberapa rombongan bemukena putih santun menakzimi setiap muslim yang mereka kenal. Ada sedikit kepuasaan di mata mereka setelah seharian berperang melawan hawa nafsu masing-masing. Bergegas juga sang imam memulai Isya yang khusyu’. Setelah beberapa lama membaca wirid bersama maka komando untuk melakukan shalat tarawih bersama dikumandangkan. Masjid yang sudah dirernovasi itu semakin terlihat lapang dan nyaman disana. Apalagi menyentuh karpet-karpet lembut dan beraroma wangi, hati ini semakin tergetar untuk lebih menyeru pengampunan kepada-Nya.
Beberapa menit dihasbiskan untuk tarawih di masjid itu sama sekali tak terasa letihnya. Kenyamanan yang sempurna untuk beribadah. Namun sayang tak sampai 5 baris shaf yang terisi di masjid yang begitu besarnya. Tapi lihat saja nanti ketika shalat Idul Fitri dilaksanakan. Di luar pelataran masjid pun akan penuh dengan orang-orang yang ingin melaksanakan shalat. Walaupun harus mengalasi dulu dengan beberapa lembar Koran. Indahnya jika pada saat tarawih kali ini seperti saat shalat Idul Fitri dilaksanakan.
Tarawih dilanjutkan pula ke tadarus. Membunyikan firman-firman Allah dengan irama merdu, volume suara microphone juga diatur sedemikian rupa agar tak mengganggu syaraf pendengaran. Jadi semakin berniat menyimak bacaaan firman-firman tersebut. Tidak seperti yang terjadi di beberapa masjid yang membunyikan keras-keras dan sedikit semaunya. Kadang hati juga merasa sedikit dongkol. Mau disimak bacaan Qur’an itu tapi sangat menganggu di telinga akibat volume speakernya yang terlalu kencang. Tidak disimak malah semakin parah karena bacaaan yang dibaca itu Al Quran yang nota bene harus disimak ketika diperdengarkan. Jadi dilema pada masing-masing muslim tentunya.
Sedikit bergeser ke tempat lapang di depan masjid jami’ ini. Hhhmmmmhhh. Hanya bisa mengelus dada saja. Muda-mudi yang masih berusia belasan bahkan ada beberapa yang belum genap sepuluh, bergerombol. Mencari kesenangan. Mencari sesuatu yang baru. Berdekat-dekatan walau nyata bukan muhrim. Di pojokan yang agak temaram. Entah setan mana yang membius mereka. Ini kah wajah ramadhan di kota tercinta dan kebanggan kita semua. Dimanakah para orang tua anak-anak bau kencur tersebut. Ataukah alasan dari anak mereka memang membuat para orang tua lengah untuk mengawasi. Subhanallah. Monggo kita saling menjaga rumah dan keluarga kita masing-masing. Setidaknya pada bulan ini. Kita benar-benar mengawasi anak-anak kita.
Sedikit berbagi
Bulan ini sangat menjanjikan ampunan. Maka hari-hari Ramadhan semakin dekat meninggalkan kita. Semakin berkurang juga kesempatan kita untuk meminta ampunan. Maka bergegas. Ayo bergegas. Memperbanyak amalan-amalan sekecil apapun di bulan ini. Seperti juga Transfer uang melalui ATM. Pada bulan ini juga telah dibuka keran-keran transfer pahala ke rekening hati kitas. Tinggal kita mau apa tidak melaksanakan. Sekecil apapun yang dilakukan pada bulan ini adalah ibadah. Bahkan tidur pada bulan ini pun adalah ibadah.
Banyak dari para pekerja sering mengeluhkan pekerjaannya. Apalagi pekerjaan yang berbau di lapangan. Ketika matahari terik menyambut mereka. Banyak yang tak tahan. Membatalkan puasanya. Padahal Allah sudah bersiap mentransfer pahala di pundit-pundi amal mereka. Sungguh sangat disayangkan bukan. Sedang saudara muslim kita yang tertimpa musibah lebih berat tekanannya daripada kita. Lantas apa yang menjadi pemaafan atas batalnya puasa kita? Tidak ada. Karena Allah tidak pernah salah mentransfer pahala kepada kita. Lihat saldo pahala kita juga akan dilipatgandakan pad bualan ini. Maka sangat disayangkan kita melewatinya hanya karena masalah pekerjaan.
Transfer pahala Allah itu pasti. Maka jangan ada sedikit keraguan apapun atas janji Allah tersebut. Cek saldo di pundi-pundi amal kita dengan shalat malam. Sedikit introspeksi ke diri masing-masing. Maka percayalah transfer pahala itu semakin jelas kita rasakan alirannya.
buat kawan-kawan sejihad
Subscribe to:
Posts (Atom)