Wednesday, December 20, 2017

USELESS TIME and ACTIVITY

Desember lagi

Sudah beberapa bulan di tahun 2017, saya mengalami penurunan drastis dalam hal menulis. Sedikit sekali tulisan yang saya hasilkan di tahun ini. Kering. Bahkan sudah mulai tandus. Saya lebih banyak bermalas-malasan tahun 2017. Setidaknya saya menghabiskan waktu untuk bermalas ria di tiap harinya adalah 18 jam. Artinya dalam setahun ini saya melakukan aktivitas malas ria  adalah sebagai berikut rinciannya.
Januari      2017 ========== 31 hari x 18 jam = 558 jam
Februari    2017 ========== 28 hari x 18 Jam = 504 Jam
Maret        2017 ========== 31 hari x 18 jam = 558 jam
April         2017 ========== 30 hari x 18 jam = 540 jam
May          2017 ========== 31 hari x 18 jam = 558 jam
June          2017 ========== 30 hari x 18 jam = 540 jam
July           2017 ========== 31 hari x 18 jam = 558 jam
August      2017 ========== 31 hari x 18 jam = 558 jam
September 2017 ========== 30 hari x 18 jam = 540 jam
October     2017 ========== 31 hari x 18 jam = 558 jam
November 2017 ========== 30 hari x 18 jam = 540 jam
December 2017 ========== 19 hari x 18 jam = 342 jam



Jadi kalau di total kira-kira saya bermalas-malasan di tahun 2017 sampai tanggal 19 desember adalah  6.354 Jam. Atau 381.240 Menit atau 22.874.400 Detik. Jika sehari 24 jam maka dalam total jam tahun ini adalah 8.472 jam atau 508.320 menit atau 30.499.200 detik. Maka prosentase saya bermalas ria itu adalah kurang lebih 75% dari total hari. Atau dengan kata lain dalam setahun ini saya menghabiskan untuk bermalas ria adalah 265 hari dari total 353 hari (per tanggal 19 December 2017).

Sungguh saya tidak produktif sekali. 265 hari dalam tahun 2017 saya gunakan untuk melakukan aktivitas yang nirproduktif. Bahkan tulisan ini saya rasa juga tidak bermanfaat sama sekali. Namun setidaknya saya tahu berapa banyak waktu yang tidak produktif di tahun 2017. Bayangkan 265 hari saya cuma diisi dengan tidur, ke toilet,makan,merokok,melihat TV, dan hal yang kurang bermanfaat lainnya. Sungguh terlalu........

06:47 PM WITA at Tukad Pancoran Sesetan Denpasar Bali


Thursday, December 15, 2016

Permintaan Maaf Terbuka

Sekian lama, mengurung di dunia yang serba cepat, membuat saya menyadari bahwa kegilaan ini semakin menjadi-jadi. beberapa tulisan yang tak selesai, sekumpulan ide yang tidak terlaksana, dan segala hal yang tak terselesaikan.

Mendekati penghujung tahun 2016, segala geram yang ada sudah menggumpal di tepian kaldera. Harus dimuntahkan, harus diluluh lantakkan. Menjadi sesuatu yang tidak hanya di sebuah alam bawah sadar saja. Seseorang pernah berbuat salah, bahkan pernah di hakimi secara personal maupun komunal. Bukan berarti hal itu menjadi hal yang rendah dan dina. Tetap tegak dan busungkan dada. Akui kesalahan dan segera meminta maaf. Hanya Tuhan yang benar-benar ber-Hak menghakimi umatnya.

Atas dasar itulah, pada hari ini saya mencoba belajar menjadi manusia baru, menjadi lebih baik, berlapang dada meminta maaf atas kesalahan, tidak mengurung pada dunia yang bergerak cepat, dan berlari secepat mungkin mengejar segala ketertinggalan.

Memang tidak mudah, bukan perkara hal yang gampang. setidaknya hal pertama yang saya lakukan adalah kembali menjadi manusia yang memanusiakan manusia. Karena hal itulah yang melandasi saya berpikir tentang ilmu Humaniora. Tulisan ini adalah sebuah awal bahwa saya tidak berusaha memejamkan mata lagi atas dunia. Dan saya sudah siap dengan segala kelapangan dada untuk segala bentuk caci maki atas apa yang saya lakukan di masa lalu. Dan segera meminta maaf atas kesalahan itu sangat menjadi hal yang harus saya lakukan

Dengan mengucap Bismillahirrahmannirrahim, saya akan berusaha untuk menjadi manusia yang baru dan membuka diri atas segala perubahan dunia. Terima kasih kepada Orang tua saya, saudara, istri, mantan istri, sahabat, sosial media yang diikuti, para bloggerorganisasi yang melekat pada pribadi saya, dan segala bentuk hal positif yang lain.

Saya, dari dalam hati yang tak bisa ditentukan dan ditemukan peng-ejawantah-annya, meminta maaf. Segala hal yang masih dan membekas pada saya yang negatif baik yang disengaja maupun tidak, saya akan berusaha memperbaikinya dengan segera. 


Duka

Baik aku berpisah
Tanpa kata
Tanpa bunga
Kelak juga aku berbaring
Di tanah
Kering belulang bernama di nisan
(Buat nenekanda tersayang: Siti Chunainah , )